Canggu sempat dipuja sebagai pusat gaya hidup digital nomad di Bali, namun kini banyak wisatawan mulai membicarakan Sisi Kelam Canggu yang perlahan mulai merusak reputasinya. Dahulu, daerah ini dikenal dengan persawahan yang asri dan pantai yang tenang, namun pembangunan masif yang tidak terkendali telah mengubahnya menjadi hutan beton yang padat. Kemacetan yang parah, polusi suara dari pembangunan vila yang tiada henti, serta meningkatnya kriminalitas kecil membuat banyak warga asing yang dulu menetap lama kini mulai melirik daerah lain yang masih lebih alami dan damai.
Salah satu hal yang paling dikeluhkan dalam Sisi Kelam Canggu adalah hilangnya kenyamanan infrastruktur yang tidak sebanding dengan ledakan jumlah turis. Jalanan yang sempit kini dipenuhi oleh deretan kendaraan yang nyaris tidak bergerak di jam-jam sibuk, mengubah perjalanan singkat menjadi pengalaman yang sangat melelahkan. Selain itu, masalah limbah dan pengelolaan sampah yang belum optimal menjadi ancaman nyata bagi kebersihan pantai-pantai ikonik seperti Batu Bolong dan Berawa. Hal ini memicu kekecewaan bagi mereka yang datang untuk mencari ketenangan, namun justru menemukan hiruk pikuk yang lebih parah dari kota asal mereka.
Selain masalah fisik, Sisi Kelam Canggu juga menyangkut pergeseran budaya dan tingginya biaya hidup yang kini menyentuh angka yang tidak masuk akal bagi masyarakat lokal maupun wisatawan kelas menengah. Dominasi kafe dan klub malam yang eksklusif perlahan-lahan menyingkirkan usaha-usaha kecil milik warga sekitar. Munculnya perilaku kurang sopan dari sebagian oknum wisatawan mancanegara yang merasa “memiliki” daerah tersebut juga menciptakan ketegangan sosial yang tidak sehat. Bali yang dikenal dengan keramahannya kini mulai tercoreng oleh komersialisasi berlebihan yang melupakan aspek keberlanjutan lingkungan.
Banyak ekspatriat yang telah lama tinggal di sana mulai menyuarakan kegelisahan mereka mengenai Sisi Kelam Canggu melalui komunitas online. Mereka merasa bahwa “jiwa” dari Canggu telah hilang, digantikan oleh keserakahan bisnis yang hanya mengejar keuntungan jangka pendek. Tren kepindahan para bule ini menuju wilayah seperti Uluwatu, Sidemen, atau bahkan pulau-pulau di tetangga seperti Lombok menjadi tanda peringatan bagi para pengembang di Bali. Jika tidak ada regulasi yang ketat mengenai tata ruang dan perlindungan alam, daerah-daerah lain di Bali dikhawatirkan akan mengalami nasib yang sama menyedihkannya.