Generasi milenial dan Gen Z yang tumbuh di era digital memiliki pandangan yang sangat berbeda terhadap warisan budaya, termasuk Kepercayaan Santet. Bagi orang tua, santet mungkin merupakan realitas spiritual yang tak terhindarkan, sering digunakan untuk menjelaskan kemalangan. Namun, anak muda yang terpapar ilmu pengetahuan dan media sosial cenderung melihatnya sebagai takhayul atau folklor yang tidak relevan dengan kehidupan modern.
Anak muda sering kali menghadapi dilema budaya. Di satu sisi, mereka dididik secara rasional di sekolah dan terbiasa mencari informasi melalui internet, yang menuntut bukti empiris. Di sisi lain, mereka tetap harus menghormati Kepercayaan Santet yang diyakini secara turun temurun oleh keluarga dan masyarakat sekitar. Sikap mereka berada di spektrum antara penolakan total dan penerimaan selektif.
Alih-alih menolak sepenuhnya, banyak anak muda memilih untuk mengkontekstualisasikan Kepercayaan Santet sebagai bagian dari Kearifan Lokal atau cerita mistis. Mereka mungkin menghargainya sebagai aset budaya, seperti legenda atau mitos, tanpa harus benar-benar meyakini kekuatan magisnya. Pendekatan ini memungkinkan mereka mempertahankan hubungan dengan orang tua tanpa mengorbankan rasionalitas pribadi.
Media sosial dan konten digital memainkan peran besar dalam membentuk persepsi mereka. Kepercayaan Santet sering kali diangkat dalam bentuk konten hiburan, seperti film horor, podcast misteri, atau utas Twitter. Pengemasan ini membuat isu tersebut terasa lebih ringan dan kurang mengancam, mengubahnya dari ancaman spiritual menjadi materi tontonan yang menarik untuk dikonsumsi.
Fenomena ini juga menunjukkan adanya perbedaan dalam mekanisme menghadapi masalah. Orang tua mungkin merujuk pada Kepercayaan Santet sebagai penyebab masalah yang tidak terlihat, mencari penyelesaian spiritual. Sebaliknya, milenial lebih cenderung mencari solusi praktis, seperti konseling psikologis, bantuan finansial, atau informasi teknis, yang sesuai dengan pola pikir modern dan pragmatis.
Meskipun demikian, pengaruh Kepercayaan Santet tidak bisa sepenuhnya dihilangkan. Ketika milenial atau Gen Z dihadapkan pada situasi yang sangat menekan—seperti penyakit kronis yang tidak kunjung sembuh atau konflik keluarga yang rumit—insting kembali pada narasi yang paling familiar dan diyakini oleh lingkungan terdekat mereka sering muncul. Ini menunjukkan residu kultural yang kuat.
Dialog antar generasi menjadi kunci dalam menjembatani perbedaan ini. Penting bagi orang tua untuk memahami bahwa rasionalitas anak muda bukanlah bentuk ketidakacuhan, melainkan hasil dari edukasi. Sebaliknya, anak muda perlu belajar menghargai bahwa di balik Kepercayaan Santet tersimpan pelajaran tentang etika, harmoni sosial, dan sejarah konflik antarmanusia di masa lalu.
Pada akhirnya, masa depan Kepercayaan Santet tidak mungkin hilang, melainkan bertransformasi. Anak muda akan terus menegosiasikan warisan ini, mempertahankan elemen-elemen yang bernilai historis dan budaya, sambil secara tegas menolak praktik yang dianggap merugikan atau bertentangan dengan sains, sehingga warisan ini tetap relevan dalam bentuk yang baru.