Dalam era digital yang serba cepat, fenomena di mana Media Massa sering kali menampilkan citra wanita sebagai komoditas visual semata telah memicu kekhawatiran besar di kalangan aktivis hak asasi manusia. Praktik objektifikasi ini biasanya terlihat dalam iklan, berita sensasional, hingga konten hiburan yang lebih menonjolkan aspek fisik perempuan daripada prestasi atau pemikiran mereka. Hal ini bukan hanya masalah estetika, melainkan pelanggaran terhadap martabat manusia yang menempatkan satu gender sebagai objek untuk menarik perhatian publik demi kepentingan ekonomi atau rating semata.
Analisis literasi menunjukkan bahwa penggunaan diksi dan pemilihan gambar oleh Media Massa sering kali memojokkan perempuan dalam narasi yang eksploitatif. Misalnya, dalam pemberitaan kasus kriminal, fokus sering kali beralih pada penampilan fisik korban daripada substansi masalah hukumnya. Pola komunikasi seperti ini membangun persepsi keliru di masyarakat bahwa nilai seorang perempuan hanya terletak pada kecantikan luar. Akibatnya, terjadi standardisasi kecantikan yang tidak realistis yang memberikan tekanan psikologis berat bagi perempuan di berbagai rentang usia, terutama remaja yang sedang mencari identitas.
Kritik terhadap cara Media Massa beroperasi juga mencakup penggunaan model perempuan dalam iklan produk yang sama sekali tidak relevan dengan kebutuhan perempuan. Strategi pemasaran yang mengandalkan sensualitas ini telah lama dikritik karena merendahkan posisi tawar perempuan dalam kehidupan sosial. Perlu adanya kode etik jurnalisme dan penyiaran yang lebih ketat untuk memastikan bahwa konten yang diproduksi tidak melukai rasa keadilan dan kesetaraan. Literasi media bagi penonton juga menjadi kunci agar masyarakat bisa memfilter dan menolak konten yang bersifat merendahkan martabat manusia.
Selain itu, Media Massa memiliki peran yang sangat kuat sebagai agen perubahan jika dikelola dengan bijak. Alih-alih melakukan objektifikasi, media seharusnya lebih banyak mengekspos profil perempuan yang menginspirasi di bidang sains, politik, dan teknologi. Perubahan narasi ini akan membantu menghapus stereotip gender yang selama ini merugikan perkembangan potensi wanita. Dengan menyajikan informasi yang edukatif dan menghargai kesetaraan, media dapat membantu membangun masyarakat yang lebih cerdas dan memiliki rasa hormat yang tinggi terhadap hak asasi setiap individu tanpa memandang tampilan fisiknya.