Stigma yang melekat pada korban kekerasan anak, terutama korban kekerasan seksual, seringkali membuat korban enggan melapor. Ini menyebabkan tidak terungkap. Rasa malu, rasa bersalah yang tidak beralasan, dan ketakutan akan reaksi negatif dari masyarakat atau keluarga menjadi beban berat bagi mereka, sehingga mereka enggan mencari keadilan dan perlindungan yang seharusnya mereka dapatkan.
Stigma sosial ini adalah dalam sistem perlindungan anak. Alih-alih mendapatkan dukungan dan empati, justru sering kali disalahkan atau dianggap sebagai aib. Perlakuan ini memperburuk trauma dan membuat mereka semakin terisolasi, menghambat proses pemulihan dan penegakan keadilan yang seharusnya mereka dapatkan dari masyarakat. penegakan hukum dalam beberapa kasus juga berkontribusi pada stigma ini. Ketika korban kekerasan sudah berani melapor namun proses hukumnya berlarut-larut atau tidak menghasilkan keadilan, mereka akan merasa tidak ada gunanya untuk bersuara. Ini mengirimkan pesan bahwa melaporkan kekerasan adalah tindakan sia-sia, dan akan memperburuk kondisi korban.
yang kuat di beberapa masyarakat semakin memperparah stigma terhadap, terutama anak perempuan. Norma-norma yang menempatkan kehormatan keluarga di atas segalanya dapat membuat kasus kekerasan seksual ditutup-tutupi. tentang hak-hak anak dan pentingnya melindungi mereka dari kekerasan juga berperan dalam mempertahankan stigma ini.
Dampak pandemi COVID-19 secara tidak langsung juga memengaruhi stigma. Pembatasan mobilitas dan isolasi sosial membuat lebih sulit mengakses dukungan atau konseling. Paparan media sosial juga bisa menjadi pedang bermata dua; di satu sisi bisa menjadi sarana informasi, tapi di sisi lain bisa menjadi tempat cyberbullying bagi korban kekerasan yang berani bersuara.
Peningkatan pelaporan kasus memang menjadi harapan. Namun, untuk benar-benar meningkatkan kualitas pelaporan, stigma sosial harus dihancurkan. Pemerintah dan lembaga perlindungan anak perlu gencar melakukan kampanye kesadaran, menekankan bahwa korban kekerasan adalah pahlawan yang berani bersuara, bukan pihak yang harus merasa malu.
Penanganan masalah stigma ini membutuhkan upaya kolektif. harus dididik untuk lebih berempati dan mendukung, bukan menghakimi. Menciptakan lingkungan yang aman dan suportif akan mendorong lebih banyak untuk melapor dan mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan. Ini adalah investasi jangka panjang untuk masa depan anak.